Jumat, 10 Juni 2016
Semuanya pasti akan mati
Hukum alam. Yang hidup pasti akan mati. Sebelum mati, ciptakan sebuah cahaya. G usah muluk2 cahaya secerah mentari. Kamu bukan nabi. Cukup seterang lilin. Sudah membantu beberapa orang melihat di tengah2 kegelapan. Siapa mereka? Ya, keluargamu sendiri, saudaramu, kerabat dan tetangga dekatmu. Sudah cukup.
Yakin, mau bersedekah?
Katanya sih, membantu kalau sudah mampu. Memberi kalau sudah kaya. Berbagi kalau sudah banyak harta. Yaaakiiin?
Nyatanya, kalau sudah terlanjur kaya, eman sama harta. Terlanjur sayang, begitu. Sudah capek capek ngumpulin, eh.. sudah terkumpul malah dibagi bagi. Tinggal dikit, gak jadi terkumpul.
Itupun kalau jadi kaya. Lha, kalau g kaya kaya, g jadi shodaqoh dong. Seumur hidup merasa kurang terus. Aku itu masih kurang, belum bisa beli ini itu. Belum kaya. Begitu seterusnya. Sampai tua pun begitu. Belum bisa beli mobil lah, pesawat lah, pulau lah. Ya gak bakal lah.
Manusia itu sifat nya merasa kurang terus, karena memang sejatinya kita itu faqiir. Yang kaya hanya Allah.
Tapi Allah mengajarkan untuk berbagi dengan sesama. Semampu kita. Punya uang seribu, disodaqohin 250. Punya sejuta disodaqohin 250rb. Toh, rezeki qt itu sebenarnya adalah pemberian. Pemberian dr Gusti. Sudah diberi, apa kita tdk mau memberikan atau menyisihkan sedikit saja. Ingat, kalau g suka memberi, jangan berharap sebuah pemberian dr Gusti. Ahhhh...
Mengapa Tuhan menciptakan manusia?
Selasa, 15 Maret 2016
*_*: Kenapa sih Tuhan harus menciptakan manusia? Toh, Tuhan sebenarnya tidak butuh manusia dan makhluk lain kan?
^_^: Terserah Tuhan dong. Mau buat manusia, mau buat anjing,kucing. Itu kan hak prerogatifnya Tuhan. Mau protes?
*_*: y gak gitu juga kali. Masalahnya... saya ini seorang manusia yang sadar betul, bahwa saya sudah dijadikan Tuhan sedemikian rupa. Yg katanya ahsanu taqwiim. Sebaik2 bentuk. Lalu, saya ingin tau, niat Tuhan menciptakan saya, apa itu salah?
^_^ : oke oke. Ga usah pake marah dong. Begini, dalam kitab suci kita kan sudah jelas. Wamaa kholaqtul jinna wal insa illa liya'buduun(a). Di situ Allah menegaskan dg sejelas jelasnya bahwa Allah tidak menciptakan jin dan manusia, kecuali hanya untuk beribadah. Menyembah. Karena kita abd nya Allah.
*_* : iya iya, ayat itu sih udah tau sejak Sd dulu. Ayat itu kan sebenarnya menunjukkan pada kita tujuan kita diciptakan. Maksudnya, apa yg harus kita lakukan sebagai manusia yg sudah diciptakan Allah. Ayat itu untuk kita.
Yang ingin saya tanyakan itu, dari sisi Allah. Gimana,ya cari katanya, saya bingung. Begini. Maksud saya, kenapa sih Allah menciptakan kita, toh tidak ada pengaruhnya buat Allah kan. Kita hidup atau mati, kita maksiyat atau bakti. ALLAH tetap maha kaya, maha hidup, maha segala-galanya kan?
^_^ : oh begitu, . Yang kamu tanyakan itu to. Saya pernah membaca di bukunya yi Quraish shihab yg judulnya wawasan Alquran. Kalo g salah ada hadis qudsi, bunyinya begini. Kuntu kanjan makhfiyyan, fa aradtu an u'rifa, fakholaqtul kholqo liya'rifuunii. Aku adalah sesuatu yg tersembunyi. Aku berkehendak utk dikenal. Maka Kuciptakan makhluk untuk mengenalKu.
Coba deh, dipahami diresapi dihayati maknanya. Kalo masih bingung, coba datangi kyai kyai dan ustadz ustadz yang paham ilmu balaghoh, nahwu, shorof. Yang paham kitab salaf ato kitab kuning. Kalo saya mah, masih jauh. Hee
*_* : iya iya, saya kan cuma sharing kegundahan hati saya selama ini. Menawa dirimu itu tau. Trus saya harus tanya kemana nih. Kyai yang paham apa tadi? Kitab kuning?
^_^ : yup. Tanya sama orang yg paham betul dengan agama. Yang sudah dewasa dalam beragama. Soalnya tidak ada yg instan, apalagi soal ilmu, lebih lebih ilmu agama. Jangan asal mencari guru y. Bisa bisa kamu dpt guru yg sesat menyesatkan. Hehe.
Yang fasih ngomong ini itu soal agama, dasarnya hanya dari kitab google, kitab facebook. Jangan percaya sama ustadz karbitan. Lha wong kyai beneran aja butuh puluhan tahun hanya untuk mempelajari satu kitab, dan pun cara bicaranya pasti berbeda dg ustad karbitan. Ustadz beneran biasanya lebih tawadhu, tdk mudah menjudge ini salah itu benar, ini haram itu halal, ini bid'ah itu sunnah. Pokoknya hati hati y cari penerang di era global ini.
Ace, Banyumanik
Baik dan buruk
Rabu, 6 April 2016
Setiap orang, seperti halnya koin, memiliki dua sisi yang kadang memiliki kecenderungan berbeda. Dalam diri manusia, pasti ada sifat baik dan buruk. Seakan sebuah paket yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Jadi, tentunya tidak ada orang yang 100% selalu berbuat baik, selalu berhusnudzon dg orang, membantu manusia dengan penuh suka cita ikhlas. Kecuali Rasulullah SAW tentunya.
Beda lagi, seorang penjahat besar, bos mafia misalnya, yang setiap harinya selalu diliputi dgn kegelapan karena kejahatannya, sudah pasti memiliki sifat baik pula. Kita tidak pernah tau, dia lebih ikhlas dari kita, atau lebih sabar, atau lebih banyak bersyukurnya atas hidup. Hanya saja, budaya dan lingkungan nya yang tidak mendukung dia berbuat baik setiap harinya.
Hemat saya, tidak ada orang yang sempurna baik atau sempurna buruk. Tugas kita untuk selalu memperbaiki diri dalam ibadah kita (hablun mina Allah) dan dalam pergaulan kita (hablun mina annas) serta kepedulian kita terhadap alam dan lingkungan (hablun minal alam).
Ace, Banyumanik
Sesedih apapun
Kamis, 7 April 2016
Seburuk apapun, sesusah apapun, yang penting paham mengapa Tuhan memosisikan itu. Daripada sangat indah, sangat baik, namun membuat lupa pada Dia.
Tak perlulah merisaukan sebuah masalah terlalu dalam. Karena pada sebuah masalah pasti ada jalan keluar. Begitupun, setiap jalan keluar akan menemukan sebuah masalah baru. Kewajiban manusia hanyalah menjalani hidup ini dengan sebaiknya, semampunya. Dan yang terpenting tidak putus asa pada sebuah masalah. Laa yukallifu Allah nafsan illa wus'ahaa. Allah tidak akan membebani manusia dgn sebuah masalah di luar kemampuan manusia itu sendiri. Allah tau kapasitas kita secara detail. Tidak perlu berkata, "Tuhan, begitu berat masalah ini. Aku tidak sanggup melewati nya."
Manusia saja yang malas berusaha keluar dari masalah yg menjangkiti.
Ingat pula, inna Allah laa yughoyyiru maa biqoumin hatta yughoyyiru maa bianfusihim. Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, hingga mereka sendiri yang berusaha mengubahnya. Sudah jelas bukan, tugas manusia hanya berusaha. Sekiranya merasa sangat teramat berat sekali, yakin bahwa pertolongan Allah sangat dekat. Sedekat urat nadi kita sendiri.
Banyumanik, Semarang
Pram; manusia terlalu sering bertepuk sebelah tangan terhadap Tuhannya
Kamis, 26 Mei 2016
Kata pram, seorang terpelajar harus sudah berlaku adil sejak dalam pikiran apalagi perbuatan. Kalimat itu mungkin sudah tidak asing lagi, terutama bagi pecinta sastra, dan pecinta keadilan tentunya. Saya ingin mengutip kalimat pram yang lain, ada di dalam novelnya berjudul Bumi Manusia. Sebuah novel tetralogi pulau buru.
Berikut tulisnya, "seorang manusia terlalu sering bertepuk sebelah tangan terhadap Tuhannya". Ahhayy. Ada yang setuju dengan pram?
Saya berpikir, dan akhirnya membenarkan pram. Mengapa? Terlalu banyak keinginan manusia di dunia ini. Berharap kaya, cantik, sehat, keadaan aman, sejahtera, sentosa, tidak tersakiti, tidak terdholimi. Terlalu besar ekspektasi manusia dalam menjalani hidup di dunia. Misalnya, pengen kaya. Manusia berdoa, "Tuhan, jadikan aku kaya. Sudah diberi kekayaan. Manusia merasa tidak cukup.
Manusia berdoa dengan yang lebih ekstrim, "Tuhan, jadikan aku lebih kaya dari si fulan". Tuhan langsung mengijabahi kah? Pasti ada prosesnya, Tuhan akan menguji manusia tersebut layak kaya atau tidak, bagaimana usahanya untuk menjadi kaya. Jika dia tidak layak, manusia tersebut tidak jadi kaya, bertepuk sebelah tangan dengan Tuhannya. Jika dia layak, dia menjadi kaya, kemudian berdoa lagi, "Tuhan, jadikan aku orang paling kaya di desa x, di kota x, di negara x, ...." semua orang berdoa seperti itu. Apakah semua menjadi paling kaya. Tidak. Semuanya bertepuk sebelah tangan dengan Tuhannya.
Terlalu banyak doa manusia yang tidak (lebih tepatnya "belum")terijabahi di dunia. Terlalu sering manusia bertepuk sebelah tangan dengan Tuhannya.
Apakah itu salah Tuhan? Jelas tidak. Itu salah manusia. Terlalu besar nafsu manusia terhadap kemewahan dunia yang hanya fana. Terlalu banyak keinginan manusia terhadap hal hal remeh temeh ini. Harta kecantikan dan keduniaan dianggap perkara remeh oleh Tuhan. Ada hal yang lebih besar dan suci, tentang kesabaran syukur keadilan dan kehidupan ukhrowi. Tuhan tidak akan menyia nyiakan manusia yang berpikir besar dan suci.
Tulisan pram, yang dianggap menyebarkan pahamnya lenin, masih saya cintai.
Banyumanik, Semarang
Selasa, 26 April 2016
arti sebuah kesempatan (part 1)
arti sebuah kesempatan (part 1)
saya ingin berbicara sedikit tentang sebuah kesempatan. banyak sekali kesempatan dalam hidup ini. pintu kesempatan terbuka lebar sepanjang kita mau berusaha. terkadang saya masih bingung dengan takdir salah satu teman saya yang sangat baik. karir menanjak, suami sepaket (ganteng, pintar, sayang dia, kaya, bertanggung jawab, dewasa), keluarganya juga bahagia. sedangkan bercermin pada diri, sepertinya masih biasa-biasa aja. masih seperti dulu. seperti tidak ada yang patut dibanggakan.
saya harus intropeksi diri nih. apa sih yang perlu diperbaiki dalam cara saya menghadapi hidup ini. tentunya masih banyak yang kurang. saya merasa usaha saya dalam hal karir, masih belum maksimal. nah ini nih, Tuhan tidak akan memberikan sesuatu yang kita belum siap. sebagai contoh, seorang ayah tidak akan memberikan anak balitanya pisau tajam. karena sang ayah tahu bahwa anak kecil ini belum siap dan belum mengerti fungsi dari pisau sendiri. bisa-bisa pisau tersebut untuk bermain dan melukai dirinya sendiri.
Tuhan tidak akan memberi kita sesuatu jika kita belum siap. lalu bagaimana cara kita mempersiapkan diri agar Tuhan mau memberikan kesempatan kepada kita? Tuhan akan tau kalau kita benar-benar siap dilihat dari bagaimana usaha kita mendapatkan hal tersebut. contohlah dalam menghadapi sebuah ulangan dari guru dengan mata pelajaran yang sangat sulit. siswa a dan siswa b tidak pintar. namun siswa a mau berusaha siang malam untuk belajar mata pelajaran tersebut. setiap ada tugas selalu dikerjakan tepat waktu, tentunya dengan bertanya kesana kemari kepada kakak kelas, guru les, dan internet. selalu berangkat dan mendengarkan dengan baik pelajaran sang guru. sedangkan siswa b, karena dia tahu bahwa dia tidak pintar, dia pasrah dan aras-arasen (malas) di kelas. setiap ada tugas tidak pernah dikerjakan karena memang sulit. tidak ada usaha yang dilakukan, entah itu bertanya atau googling. usahanya sangat minim. berangkat sekolah pun dia hanya sekedar berangkat, tidak ada persiapan sama sekali. ketika tiba saat ulangan, siswa a dan b mendapatkan nilai yang sama. sama-sama jelek karena mereka berdua memang tidak pintar. lalu apakah guru akan memberikan nilai yang sama pada keduanya? tidak. seorang guru yang baik tentunya menghargai sebuah proses. guru akan tahu mana siswanya yang bersungguh-sungguh dengan usaha yang mati-matian, dan mana siswa yang tidak mau berusaha sama sekali. pasrah bongkokan.
apalagi Tuhan yang memiliki sifat Maha Melihat, Maha Mengetahui. Tuhan tahu mana hambanya yang berjuang mati-matian, mana hambanya yang berjuang dengan baik, mana hambanya yang berjuang aras-arasen, mana hambanya yang tidak berjuang sama sekali. hamba yang hanya mengandalkan dewi fortuna, hamba yang hanya mengandalkan takdir Tuhan, hamba yang pasrah tanpa adanya tawakkal, hamba yang pasif, apakah Tuhan mau memberikan hambanya yang seperti itu? tentunya anda tahu jawabannya.
Hidup ini keras, kawan. tapi, hidup ini juga indah dan manis.
Langganan:
Postingan (Atom)